Andrianie’s Blog

Juli 22, 2011

The House of GAAP

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 12:13 pm

Istilah “The House of GAAP ” berasal dari sebuah artikel yang dibuat oleh Steven Rubin dalam Journal Akuntansi edisi Juni 1984 dan umumnya digunakan untuk menggambarkan tingkat otoritatif standar dan praktik yang masuk dalam pengertian prinsip akuntasi berterima umum.

The House of GAAP terdiri atas fondasi dan empat tingkatan yang memiliki otoritas dimana semakin ke atas dan ke kanan tingkat otoritatif semakin lemah. Berikut ini diuraikan secara ringkas isi dari fondasi dan tiap tingkat bangunan GAAP tersebut:

Dalam hal ini yang menjadi fondasi pada the house of GAAP adalah  konsep dasar dan prinsip-prinsip umum yang melandasi pelaporan keuangan. Seperti halnya dalam membangun rumah fondasi menjadi dasar untuk memperkuat bangunan sehingga menjadi bangunan yang kokoh. .

Tingkat pertama dalam House of GAAP  berisi pengumuman atau ketentuan resmi yang diterbitkan oleh badan otoritatif. Dimana pengumuman tersebut biasanya berupa pernyataan standar, interprestasi, dan suplemene, misalnya: FASB yang menerbitkan SFAS lalu IASC yang menerbitkan IAS sebagai suatu standar dalam pelaporan/laporan keuangan. Otoritas penerbitan ini kuat karena kekuatan yang termuat dalam pengumuman resmi tersebut telah dirancang dan dibahas melalui proses dan prosedur formal sebelum diterbitkan.

Tingkat kedua, tingkat ini menjelaskan  jika perlakuan akuntansi tidak diatur dalam ketentun resmi yang diterbitkan dalam tingkat pertama, maka dapat diambil dari tingkat kedua atau tingkat berikutnya untuk menentukan perlakuan akuntansi tersebut. Pada tingkat ini pedoman akuntansi yang digunakan akan lebih sempit aplikasinya karena hanya menyangkut industri tertentu dan biasanya bersifat teknis dan prosedural. Contohnya: adanya panduan/petunjuk yang diberikan oleh AICPA (Badan Audit Amerika) mengenai industri tertentu yang mungkin perlakuan akuntansi atas industri/entitas  tersebut tidak terdapat dalam standar resmi. Namun secara konseptual dan kekuatan tingkatan ini menjadi berkurang dikarenakan kemungkinan petunjuk teknis tersebut tidak sesuai dengan keadaan perusahaan tertentu walaupun masih dalam satu industri.

Tingkat ketiga, tingkat ini berisi publikasi badan resmi yang berwenang yang tidak termasuk dalam kategori resmi karena tidak disusun berdasarkan prosedur resmi seperti penerbitan pada tingkat pertama. Termasuk dalam tingkat GAAP ketiga ini adalah penerbitan-penerbitan dari badan atau lembaga-lembaga di luar badan yang berwenang menyusun standar akuntansi, misalnya peraturan perundang-undangan, publikasi industry dan semacamnya termasuk dalam pengertian prinsip akuntansi tertentu. Dimana praktik akuntansi tertentu mungkin berkembang dalam suatu industry karena pengalaman, alasan praktis menjadikan praktik akuntansi tersebut suatu kebutuhan praktis dalam industry. Contohnya: Buletin Teknis yang dibuat dan diterbitkan sebagai keterangan untuk memperjelas standar yang sudah ada berdasarkan pengalaman dan praktik-praktik akuntansi yang semakin berkembang.

Tingkat keempat, jika perlakuan akuntansi tertentu tidak dapat dicarikan acuannya dalam ketiga tingkatan di bawahnya maka sumber-sumber atau literature akuntansi lainnya dapat digunakan sebagai acuan. Namun demikian suatu sumber atau literature akuntansi sebagai prinsip tergantung pada relevansinya dengan keadaan yang memerlukan penerapan perlakuan tersebut. Dikatakan relevan jika sumber dan literature tersebut berasal dari penyusunan yang sudah diakui keahliannya dan sumber tersebut memberikan petunjuk secara spesifik perlakuan akuntansi bersangkutan.

 Berdasarkan uraian diatas mengenai otoritas dapat disimpulkan bahwa tingkat pertama memiliki otoritas lebih kuat dibandingkan tiga tingkatan diatasnya karena pengumuman/ketentuan resmi  diterbitkan berdasarkan proses dan prosedur formal oleh badan otoritatif,  pengaruh dari ketentuan ini pun cukup luas.

Untuk otoritas tingkat kedua tidak cukup kuat dibandingkan tingkat pertama hal ini dikarenakan tidak melalui prosedur formal seperti tingkat sebelumnya. Pengumuman/ketentuan yang diterbitkan pun lebih sempit aplikasinya, hanya menyangkut industri tertentu dan bersifat agak teknis. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya perbedaan atau konflik perlakuan akuntansi atas industri tertentu sehingga perlu mempertimbangkan dan memilih perlakuan yang menggambarkan substansi transaksi yang lebih baik.

Sama halnya dengan tingkat kedua otoritas untuk tingkat ketiga pun tidak cukup kuat bisa dikatakan melemah dikarenakan walaupun dibuat oleh badan resmi tetapi bukan badan yang berwenang dalam menyusun standar akuntansi dan tidak berdasarkan prosedur resmi. Selanjutnya tingkat terakhir yaitu tingkat keempat memiliki otoritas lebih lemah dibandingkan tingkat-tingkat sebelumnya. Hal ini dikarenakan pengumuman/ketentuan mengenai perlakuan akuntansi berasal dari orang-orang ahli yang menerbitkan suatu jurnal, artikel atau buku yang mungkin dapat digunakan sebagai acuan dalam suatu perlakuan akuntansi tanpa menyimpang dari konsep dasar dan prinsip-prinsip akuntansi sebagai dasarnya.

Hal ini sesuai dengan istilah yang diberikan oleh Steven Rubin yaitu “The House of GAAP “ dalam menggambarkan tingkat otoritatif standar dan praktik dalam pengertian GAAP atau PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum) sebagai suatu bangunan rumah. Semakin bertingkat sebuah rumah, maka tingkat paling atas akan semakin lemah melihat dari fondasinya. Begitu pun GAAP, bagaimanapun pengumuman/ketentuan yang diterbitkan tetap mengacu pada konsep dasar dan prinsip-prinsip akuntansi yang telah ditetapkan.

Sumber :  http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/teori_akuntansi/bab1-arti_penting_dan_karakteristik_prinsip_akuntansi.pdf

November 12, 2009

Jurnal: Cadangan Devisa

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 9:39 am

Tema             :   Cadangan Internasional

Masalah

Krisis keuangan memicu suatu negara untuk melakukan cadangan devisa,  karena dikhawatiran akan terjadinya kelangkaan sumber kebutuhan atas pangan

Tujuan

  • Mengukur kepentingan relative dari pandangan-pandangan alternatife menjelaskan  akumulasi cadangan internasional.
  • Pemodelan permintaan pencegahan cadangan internasional, meihat itu sebagai asuransi diri terhadap kontraksi output mahal disebabkan pemberhentian tiba-tiba dan pelarian modal.

Metodologi

Sample dan data

–   Pada tahun 1994 terjadi krisis Tequila, Meksiko (Amerika Latin)

–   Tahun 1997 – 1998 krisis di Asia Timur menyebabkan perubahan dalam permintaan internasional  cadangan, penimbunan meningkat dari waktu ke waktu.

Metode  Penelitian

  • Menambah dua set variable. Pertama, factor-faktor yang terkait dengan motif : Tertinggal dalam pertumbuhan ekspor dan penyimpangan dari paritas daya beli prediksi (PPP)
  • Upaya menangkap pencegahan dan penyesuaian akibat tiba-tiba krisis berhenti, dengan menggunakan variable dummy.

Analisis

Akumulasi cadangan devisa dipicu oleh kekhawatiran tentang ekspor daya saing. Pemerintah menggunakan dua alas an dalam mengakumulsasi cadangan devisa: Mercantilist Motives dan Precautionary Motives.

Pemerintah melakukan intervensi dengan melemahkan nilai tukar sehingga dapat mendorong kenaikan pembelian suatu produk yang akan memicu kenaikan surplus perdagangan. Sehingga cadangan devisa suatu negara mengalami suatu peningkatan.

Sama halnya dengan motives sebelumnya. Precautionary motives, pemerintah meningkatkan cadangan devisa dengan maksud berjaga-jaga apabila terjadi krisis. Dapat dilihat dari apa yang selama krsis di Asia Timur kekurangan cadangan devisa secara umum dapat digambarkan dari lebih besarnya cadangan devisa dibandingkan hutang jangka pendek.

November 4, 2009

Ekonomi Tahun 2006

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 10:00 am

Tantangan pokok yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia pada tahun 2006 masih besar. Dampak dari kenaikan bbm  menyebabkan inflasi tinggi, daya beli rendah dan nilai tukar rentan. Artinya: Apabila Harga minyak dunia perbarelnya naik maka akan menaikan biaya transportasi dan itu membuat harga barang-barang umumnya ikut menjadi naik sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat.

Tantangan tersebut adalah: 1).meningkatkan stabilitas ekonomi terutama dalam menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah. Tantangan ini cukup berat dengan masih besarnya tekanan eksternal terutama harga minyak dunia yang diperkirakan masih tinggi dan kemungkinan berlanjutnya siklus pengetatan moneter di negara-negara maju yang diperkirakan masih berlangsung paling tidak sampai dengan semester I/2006.  Sementara itu ekspektasi masyarakat terhadap inflasi masih tinggi berkaitan dengan rencana penyesuaian harga barang dan jasa yang dikendalikan oleh pemerintah (administered price) serta kenaikan gaji dan upah yang diberlakukan awal tahun 2006. 2). Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat. Perlambatan ini antara lain disebabkan oleh permintaan domestik yang melemah, tercermin dari menurunnya kepercayaan konsumen, terbatasnya ekspansi fiskal, dan meningkatnya suku bunga di dalam negeri. 3) Meningkatkan kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja yang semakin luas dan mengurangi kemiskinan.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan pokok tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal diantaranya adalah pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai), setiap masyarakat diberikan BLT untuk menjaga daya beli masyarakat, Bea masuk bahan baku dan komponen industri alat-alat berat dibebaskan efektif November 2005; Bea masuk gula diringankan, raw sugar dari Rp 550/kg menjadi Rp 250/kg, gula rafinasi dan gula putih masing-masing dari Rp 790/kg menjadi Rp 530/kg, efektif November 2005, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dinaikkan 10 persen, Januari 2006; Tarif mobil kendaraan penumpang umum diturunkan, efektif November 2005; Pembatalan perda mengenai pajak dan retribusi yang menghambat dunia usaha dipercepat.

Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.

Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro  melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Untuk mengendalikan uang yang beredar pemerintah dapat: 1) Membeli atau menjual surat berharga pemerintah, 2) meningkatkan suku bunga bank. 3). Mengatur ketersediaan uang tunai. Yang dimaksudkan untuk meningkatkan rendahnya investasi. Dengan penurunan suku bungan, maka kesempatan perusahaan untuk melakukan perluasan usahanya semakin besar sehingga akan membuka lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran.

Selain itu, Iklim investasi pun perlu segera ditingkatkan agar mampu menarik penanaman modal baik dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai faktor pokok yang selama ini menghambat investasi antara lain prosedur perijinan yang panjang dan lama, ketidakpastian hukum, tumpang tindih kebijakan antara pusat dan daerah serta antar sektor, iklim ketenagakerjaan yang belum kondusif bagi penciptaan iklim usaha yang sehat, administrasi perpajakan dan kepabeanan yang berbelit, serta dukungan infrastruktur yang kurang memadai perlu ditangani dengan segera. Pembenahan sektor riil ini semakin penting dengan semakin ketatnya persaingan antar negara untuk menarik investasi. Oleh karena itu pemerintah  memperpendek prosedur perijinan dan  mengurangi biaya perijinan dalam rangka mendorong usaha kecil dan menengah.

Oktober 7, 2009

MASALAH MAKRO EKONOMI Jangka Panjang

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 3:10 am

Pertumbuhan Ekonomi

Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makroekonomi dalam jangka panjang, yang dialami oleh suatu negara di dunia, merupakan fenomena penting yang dialami dunia semenjak dua abad belakangan ini. Pada masa ini keadaan sudah sangat berbeda, sebelumnya masyarakat di berbagai negara masih hidup pada tahap substansi dan bermata pencaharian utama di sektor pertanian, perikanan atau berburu, kini teknologi mulai berkembang mempermudah kegiatan masyarakat.

Di tinjau dari sudut ekonomi, perkembangan ekonomi dunia yang berlaku sejak dua abad lalu menimbulkan dua efek penting yang sangat menggalakkan, yaitu :

  1. Kemakmuran hidup masyarakat makin meningkat,

  2. Dapat menciptakan kesempatan kerja baru kepada penduduk yang bertambah terus jumlahnya

Tetapi pada pertengahan abad ke-20 banyak negara berkembang belum mengalami pertumbuhan yang berati. Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya pertumbuhan ekonomi berati perkembangan fiskal produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu negara:, pertambahan dan jumlah produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah sekolah, produksi sektor jasa dan produksi sektor modal.

Pembangunan ekonomi adalah suatu ungkapan yang menggambarkan tingkat perkembangan suatu negara yang diukur melalui presentasi pertambahan pendapatan nasional riil. Pembangunan ekonomi erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi karena mendorong pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi :

Faktor Ekonomi

  • Sumber Daya Alam
  • Sumber Daya Manusia
  • Sumber Daya Modal
  • Keahlian / Kewirausahaan

Faktor Non ekonomi

  • Sosial Kultur
  • Politik
  • Sistem yang berlaku

Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.

Pertumbuhan Kapasitas Produksi

Suatu negara memiliki sumber daya alam, manusia, modal dan keahlian serta budaya yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendorong pertumbuhan kapasitas produksi. Sumber daya alam seperti tanah dan kekayaan alam lainnya dapat mempermudah usaha untuk mengembangkan perekonomian suatu negara terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi.

Apabila negara tersebut memiliki kekayaan alam yang dapat dikelola dan menguntungkan, teknologi atau barang-barang modal yang bertambah jumlahnya dan modern dapat menyebabkan produktivitas bertambah dan menimbulkan pertambahan produksi yang lebih cepat. Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk, karena merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, dan kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.

Ketersediaan Dana Investasi

Investasi dalam pertumbuhan ekonomi merupakan pendorong yang sangat penting. Berkaitan dengan pengelolaan sumber-sumber daya suatu negara sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Dapat dipengaruhi dari sikap masyarakat antara lain : sikap berhemat bertujuan untuk mengumpulkan lebih banyak uang untuk investasi, sikap berusaha menambah pendapatan dan keuntungan dll.

Namun apa yang terjadi apabila jumlah penduduk tidak seimbang dengan faktor-faktor produksi lain yang tersedia? Produktivitas marjinal penduduk rendah, tidak akan menimbulkan pertambahan dalam produksi nasional, pendapatan perkapita menurun. Begitu juga apabila barang-barang modal bertambah tetapi teknologi tidak mengalami perkembangan, produktivitas barang-barang modal tidak akan mengalami perubahan. Dan tentunya tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sukirno,Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Penganta. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Oktober 1, 2009

Permintaan dan Penawaran

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 9:53 am

Permintaan

Permintaan mencerminkan perilaku konsumen dalam membeli barang/jasa tertentu, yang  artinya keinginan saja tidak mencukupi syarat untuk terciptanya permintaan.

Permintaan merupakan  kurva atau fungsi yang menunjukkan jumlah barang yang diminta konsumen pada berbagai tingkat harga barang itu sendiri. Perilaku permintaan konsumen tunduk pada apabila harga suatu barang naik maka jumlah yang diminta konsumen bertambah dan sebaliknya apabila harganya turun maka jumlah yang diminta berkurang sehingga menyebabkan kurva permintaan berslope negative atau miring dari kiri atas ke kanan bawah.

Selain itu pengertian permintaan haruslah didasari asumsi bahwa faktor-faktor selain harga barang tersebut yang juga ikut menentukan jumlah yang diminta konsumen tidak berubah (caterius paribus). Contoh : Terjadi kanaikan harga beras yang semula adalah Rp. 4.000 menjadi Rp. 4.500 per kilogram, kemungkinan jumlah beras yang diminta akan tetap atau bahkn naik ketika pendapatan konsumen meningkat.

Contoh
Pergeseran kurva permintaan akibat dari perubahan pendapatan masyarakat.

Pendapatan masyarakat mula-mula Rp.30,00 jumlah yang diminta 40 unit. Pendapatan meningkat Rp.40,00 jumlah permintaan naik menjadi 50 unit. Pendapatan turun menjadi Rp.20,00 jumlah permintaan menjadi 30 unit.

Apabila factor-faktor yang dianggap tetap tersebut berubah, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan permintaan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan permintaan tersebut:

Pendapatan konsumen, pendapatan konsumen turut menentukan jumlah barang yang diminta . akibabtnya konsumen akan mampu membeli barang dalam jumlah yang lebih besar atau sebaliknya. Contoh : pada saat menjelang Idul Fitri, biasanya para karyawan akan menerima tambahan pendapatan berupa tunjangan hari raya (THR).

Selera konsumen, Tingginya selera konsumen terhadap barang akan menyebabkan jumlah barang yang dibeli cenderung meningkat dan sebaliknya. Semakin pentingnya kebutuhan alat komunikasi membuat selera kalangan anak muda terhadap kepemlikan telepon meningkat.

Harga barang pengganti , Harga barang pengganti turut menentukan jumlah yang diminta konsumen. Berkurangnya jumlah barang yang diminta disebabkan karena konsumen lebih memilih membeli barang pengganti yang harganya menjadi relatif lebih murah.

Perkiraan harga dimasa yang akan datang , Perkiraan konsumen terkait dengan harga barang dimasa yang akan datang turut menentukan jumlah barang yang diminta konsumen. Contoh, dugaan bahwa bensin akan naik, maka pada harga bensin hari ini yaitu sebesar Rp.5.000,- per liter.

Penawaran

Penawaran mencerminkan pola perilaku produsen dalam menjual suatu jenis barang atau jasa tertentu.

Hukum penawaran berbunyi: “Apabila harga suatu barang atau jasa naik, maka jumlah yang ditawarkan produsen akan bertambah dan sebaliknya. Apabila harga suatu barang atau jasa turun , maka jumlah yang ditawarkan produsen juga akan berkurang”.

Contoh:
Pergeseran kurva penawaran akibat perubahan harga barang.

kurva penawarn

Kurva Penawaran

– Pada saat harga Rp.30,00 jumlah unit yang ditawarkan sejumlah 40 unit.
– Pada saat harga naik menjadi Rp.40,00 jumlah barang yang ditawarkan meningkat menjadi 60 unit,   kurva bergeser ke kanan.
– Pada saat harga turun menjadi Rp.20,00 maka jumlah yang ditawarkan berkurang menjadi 25 unit, kurva   penawaran bergeser ke kiri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Penawaran:

Perubahan penawaran dicerminkan dari pergeseran kurva penawaran jika kurva penawaran jika kurva penawaran bergeser ke kanan berarti penawaran bertambah.

Harga bahan baku, harga bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, menetukan besarnya biaya produksi.

Teknologi, Pemakaian teknologi baru dalam memproduksi suatu barang akan mengakibatkan biaya produksi kurang tersebut lebih murah.

Pajak atau subsidi, Pajak yang dibebankan kepada produsen/penjualan, akan dianggap sebagai tambahan biya produksi.

Jumlah produsen /penjualan, Jumlah produsen penjualan menentukan jumlah barang yang ditawarkan, semakin banyak penjual maka akan semakin besar jumlah barang yang ditawarkan.

Masalah-masalah Ekonomi Makro.

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 9:46 am

Masalah jangka pendek atau masalah stabilisasi dalam ekonomi makro, meliputi:

  • Inflasi
  • Pengangguran
  • Ketimpangan neraca pembayaran

Dalam Ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Inflasi juga dapat dikatakan menurunya nilai mata uang, yang mengakibatkan harga-harga melambung tinggi.

Dampak positif dari inflasi, dapat mendorong peningkatan pertumbuhan perekonomian lebih baik, lebih semangat bekerja dan menabung. Sedangkan dampak negatifnya adalah sebaliknya. Misalnya, pada tahun 1997 kurs mata uang Indonesia mencapai +-Rp 23.000,/dollar dan harga bahan-bahan pokok menjadi naik menyebabkan banyak perusahaan yang vailid.

Pengguran, orang dalam usia kerja tetapi sedang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Pengangguran sering sekali menjadi masalah dalam perekonomian karena akan mengurangi pendapatan masyarakat dan munculnya kemiskinan semakin bertambah. Munculnya pengangguran juga diakibatkan karena adanya inflasi yang mengakibatkan banyak perusahaan yang gulung tikar. Karena tidak seimbangnya antara lapangan pekerjaan dan angkatan kerja. Pengangguran juga memiliki dampak yang buruk seperti tingginya tingkat kriminalitas, premanisme, kemiskinan, dll.

Ketimpangan neraca pembayaran

Neraca pembayaran adalah neraca ikhtisar dari segala transaksi yang terjadi antara suatu negara dengan negara lain selama jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Transaksi yang terjadi menyangkut barang-barang dan jasa, dalam bentuk ekspor maupun impor, transaksi finansial seperti pemberian atau penerimaa kredit kepada atau dari negara lain, penanaman modal di luar negeri dan transaksi-transaksi yang bersifat unilateral seperti pembayaran transfer dari orang-orang yang tinggal di luar negeri dan bantuan luar negeri.
Bila jumlah pembayaran ke luar negeri tidak sama dengan jumlah penerimaan yang diperoleh dari luar negeri, selisihnya dapat berupa surplus atau defisit pada neraca pembayaran. Ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran dapat menjadi masalah jika ketidakseimbangan cukup besar.

April 20, 2009

Hello world!

Filed under: Uncategorized — andrianie @ 5:36 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.